Monday | October 08, 2007

Heliosentris Vs Geosentris

 

Heliosentris merupakan teori yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, bumi dan planet lain di tata surya ini berevolusi mengelilingi matahari. Sedangkan geosentris adalah teori yang mengemukakan bahwa pusat alam semesta adalah bumi, matahari dan seluruh benda langit lainnya berputar mengelilingi bumi.

Pada awalnya manusia primitif mengemukakan bahwa alam semesta ini berpusat pada bumi, bentuk bumi adalah datar dan langit ibarat kubah yang menutupinya.

Kemudian seiring berkembangnya ilmu pengetahuan munculah teori geosentris yang dikemukakan oleh Clodias Ptolomeus, teori ini pada hakekatnya berbeda dengan teorinya manusia primitif. Clodias Ptolomeus mengemukakan bahwa bumi itu bulat dan sebagai pusat alam semesta. Konon Claudias Ptolomeus hidup di Mesir, teorinya berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan Islam di Baghdad dan didukung oleh ulama Islam pada waktu itu.

Namun teori ini hanya bertahan beberapa abad saja, Galileo Galilelei mulai mengemukakan hasil experimentnya terhadap alam semesta. Menurutnya pusat tata surya ini adalah matahari, bumi beserta planet lain di tata surya berevolusi mengelilingi matahari. Tentu saja teori heliosentris ini amat bertentangan dengan pemahaman gereja Vatikan. Karena takut Galileo akan menyebarkan ajaran yang salah, gereja kemudian memburunya dan berusaha untuk membungkan mulutnya. Dan Galileo pun tak kenal putus asa dalam menyatakan kebenaran menurut versinya hingga ia harus meninggal karena dibunuh. Tetapi Galileo tidak sendirian pada waktu itu, banyak murid dan pendukungnya yang tetap berusaha menyebarkan kebenaran bahwa pusat tata surya adalah matahari. Dan akhirnya masyarakat dunia pun dapat menerima kebenaran ini.

Namun pada abad ke-21 ini mulai terjadi beberapa keganjalan yang dapat memperlemah teori heliosentris.

Diantaranya ditemukan bahwa matahari itu sebenarnya tidak diam, tapi juga berevolusi mengelilingi sesuatu di alam semesta ini. Dan para astronom pun mengatakan bahwa sesungguhnya matahari itu berputar mengelilingi pusat galaksi, yang kemudian dikenal dengan nama Black Hole (lubang hitam). Matahari berputar mengelilinginya dengan kecepatan yang luar biasa, tentu saja diikuti dengan benda-benda di tata sarya. Jadi benda-benda di tata surya tetap mengelilingi matahari. Seperti bulan yang tetap mengelilingi bumi dan mengikuti bumi mengelilingi matahari.

Tidak hanya matahari yang mengelilingi black hole, tetapi juga seluruh bintang yang berada di galaksi tersebut.

Mengapa dinamakan Black Hole?

Black Hole artinya lubang hitam, dinamakan lubang hitam karena cahaya yang telah masuk atau bahkan baru mendekatinya tidak bisa keluar lagi karena besarnya gaya gravitasi. Black hole berasal dari bintang yang telah mati dan kemudian mengecil beribu-ribu kali lipat. Kata para astronom matahari dapat menjadi Black Hole jika dimampatkan hingga menjadi sebesar bola pingpong.

Kaganjalan yang kedua yaitu foto bumi yang diambil dari satelit ruang angkasa tidak menunjukkan bahwa bumi itu berotasi. Ada yang menyanggah hal itu dapat terjadi karena satelit berputar bersama bumi. Namun disini guru saya memberikan sebuah analogi. Jika bumi ini benar-benar berotasi/ berputar, kita orang Indonesia yang ingin pergi ke Amerika seharusnya tidak perlu terbang jauh-jauh. Kita cukup naik ke ketinggian beberapa km di atas permukaan bumi , kemudian menunggu kapan kita akan berada di atas Amerika,, jika bumi itu benar-benar berputar. Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi.

Keganjalan ketiga tentang air laut yang tetap, tidak tumpah ke ruang angkasa atau membanjiri daratan. Pada waktu SMP saya diberi kiasannya. Jika kita memutar ember berisi air secara vertikal dengan kecepatan yang luar biasa, maka air itu tidak akan tumpah, hal itu karena pengaruh gaya normal, sentripetal dan kecepatannya. Dan hal itu memang terbukti. Namun, kemudian saya berpikir tentang kecepatan bumi, bumi berotasi 360o dalam waktu 24 jam. Berarti bumi menempuh 150 dalam waktu 1 jam. Saya kira kecepatan kita dalam memutar ember jauh lebih cepat dari kecepatan bumi ketika berotasi.

Dan keganjalan terakhir adalah ayat-ayat Al-Qur’an tentang alam semesta.

1.Q.S Fathir:13

“ Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan......”

2.Q.S Yaa Siin: 38-40

“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bulan manzilah-manzilahnya, sehingga kembalilah ia sebaga bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. Dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

3. Ar-Ra’du:2

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu”

4. Al-Anbiya’: 33

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”

5. Ibrahim:33

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.”

Dan tentunya masih banyak ayat yang lain. Jika kita cermati kelima ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah menjelaskan peredaran matahari dan bulan. Tidak ada ayat yang menjelaskan tentang peredaran bumi. Agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal fikiran manusia, dan tentunya akan selalu sesuai dengan kebenaran ilmu pengetahuan.

Namun ilmu pengetahuan sekarang tampaknya belum berpihak pada agama Islam, dan sudah kewajiban kita untuk membuktikan bahwa yang dikatakan Al-Qur’an adalah kebenaran yang hakiki.

Mungkin banyak orang yang akan mengira kita gila, tak berakal dan amat bodoh. Tapi memang itulah fithrah manusia untuk selalu mengejek dan melecehkan hal yang tabu padahal sebenarnya itulah sebuah kebenaran pencipataan.

Seperti gereja yang memburu Galileo, semua orang tidak percaya padanya pada waktu itu, namun sekarang banyak orang telah mempercayainya. Contoh yang lain adalah saat tumbuh suburnya teori darwinisme, orang Islam yang berkata bahwa sesungguhnya manusia itu berasal dari Adam akan dilecehkan bahkan dianggap gila oleh mereka. Namun penelitian mereka sendirilah yang membuktikan runtuhnya teori evolusi Darwin. Nah, itulah kebenaran Al-Qur’an yang wajib kita yakini.

Yah, saya hanyalah seorang murid yang masih sangat kurang ilmu pengetahuan dan hanya berusaha untuk menghilangkan kebimbangan yang selama ini meranda hati. Oleh karena itu, pemberitahuan tentang kesalahan pemahaman saya dan pemberian ilmu para pembaca rakhimakumullah sangat saya harapkan.

 

Posted by Miftah at 12:36:17 | Permanent Link | Comments (27) |

Mengapa Allah Menciptakan Kita Semua?

saya tidak tahu, apakah pertanyaan itu termasuk pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab, atau pertanyaan yang memang sangat perlu kita untuk menjawabnya guna meningkatkan kualitas iman kita

Firman Allah dalam Q.S Adz-dzariyat:56

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”


Dari ayat di atas dapat kita ketahui, bahwa Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian di dalam ayat lain dikatakan juga bahwa Allah sebetulnya tidak butuh kita sembah, yang butuh menyembah Allah adalah kita, Makhluk-Nya.....??? Allah tidak akan kekurangan apa pun jika kita tidak menyembah-Nya, namun jika kita tidak menyembah Allah mau dikemanakan hidup kita?

Lalu bagaimana jika Allah tidak menciptakan makhluk? Otomatis tidak akan ada yang mengagungkan-Nya, tidak ada yang menyembah-Nya, dan dengan kata lain kebesaran dan kekuasaan-Nya tidak berarti apa-apa. Apalah arti menang jika tidak ada lawan? Bukan juara 1 namanya jika ia hanya bertanding sendirian.

Saya pernah mencoba mendiskusikannya dengan teman saya, katanya ada hadits yang mengatakan bahwa singgasana Allah adalah keagungan/kebesaran / kekuasaan dan jubah-Nya adalah kesombongan. Jadi jelaslah bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya sebagai bentuk sifat sombong-Nya, dan memang Allah pantas untuk bersikap sombong, karena Allah memiliki semua-Nya ( wa lahul kibriyaai wal ‘adhamah)...

Firman Allah, Q.S Qaaf:29

“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”

Yah, apa pun alasan Allah menciptakan makhluk-Nya, yang jelas Allah tidak akan menganiaya hamba-Nya. Wallahu a’lam bishshawaab

Posted by Miftah at 12:29:31 | Permanent Link | Comments (0) |

Jalan Berdakwah

 

Firman Allah Q.S An-Nahl:125

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hikmah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah perkataan yang benar dan tegas yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Dalam Muhammadiyah ayat ini sudah sangat sering disampaikan dan menjadi dasar Muhammadiyah dalam berdakwah, sehingga terciptalah konsep dakwah cultural.

Dakwah Cultural adalah cara berdakwah dengan cara perdekatan budaya. Budaya, tradisi dan adat istiadat yang sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat dihargai, kemudian dikemas dengan nilai-nilai Islam sehingga lambat laun masyarakat dapat meninggalkan tradisi yang berbau TBC (takhayul, bid’ah, khurafat) dengan peribadatan sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosul.

Contoh: jika Fulan dipanggil untuk mengikuti selamatan 3 hari setelah orang meninggal, maka Fulan tetap datang dengan catatan “tidak mengikuti beribadatan yang menyimpang”. Kemudian dari situ Fulan memberikan pengarahan pada masyarakat bahwa selamatan setelah orang meninggal itu tidak ada tuntunannya dalam Islam. Maka acara selamatannya pun diubah menjadi penganjian, dari yang dulunya 7 hari menjadi 3 hari dan akhirnya bisa menjadi hilang. Hal seperti ini pernah terjadi di Piyungan, Bantul, Yogyakarta, namun saya kurang tahu apakah tradisi tersebut sudah benar-benar hilang.

Yang saya bingungkan di sini adalah, apakah cara tersebut efektif untuk menghilangkan tradisi masyarakat? Yogyakarta adalah kota tempat kelahiran Muhammadiyah dan Muhammadiyah pun amat berkembang pesat di Yogyakarta. Namun kenapa di Yogyakarta sendiri tradisi kejawennya masih tumbuh subur? Padahal KHA. Dahlan sendiri dulu tumbuh di lingkungan kraton, sungguh ironis.

Guru saya berkata bahwa itulah proses, dan itulah yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk selalu dakwah amar ma’ruf nahi munkar, karena memang sulit sekali berhadapan dengan tradisi masyarakat. Mengingatkan anggota keluarga sendiri saja kadang kita tidak mampu.

Dan menurut teori dakwah, dakwah itu harus disesuaikan dengan objek yang didakwahi. Jika orang yang kita dakwahi sudah mampu untuk menerima kebenaran seutuhnya maka katakanlah dengan tegas dan terang, namun jika orang yang kita dakwahi belum mempu untuk menerima kebenaran maka lakukanlah dakwah dengan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu.

Konsep ini juga pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau berdakwah di Makkah, yang pertama kali beliau lakukan adalah menanamkan iman dan tauhidullah di hati umatnya. Dan ketika beliau berdakwah di Madinah, beliau mulai menanamkan hukum-hukum agama, jihad, muammalah, dll. Hal tersebut dikarenakan oleh kondisi umat Islam di Madinah yang lebih siap menerima kebenaran dibanding kondisi umat Islam di Makkah. Dan dakwah nabi pun terbukti keberhasilannya.

Jika kita melihat pada sejarah masuknya Islam ke Indonesia, orang Indonesia pada umumnya menyukai Islam karena ajaran agama Islam yang tidak mengenal sistem kasta, penyebaran Islam dilakukan dengan jalan damai, upacara keagamaanya yang sederhana, dll. Walaupun telah memeluk Islam, umat Islam pada waktu itu masih sulit sekali meninggalkan tradisi animisme, dinamisme maupun ajaran Hindu Budha, sehingga dilakukanlah pendekatan-pendekatan kebudayaan. Seperti Sunan Kali Jaga yang mengundang orang untuk memeluk Islam dengan gamelan, wayang kulit yang dijadikan hiburan dikemas nilai Islam dengan diubahnya bentuk tubuh wayang kulit agar tidak terlalu menyerupai manusia, dll.

Saya sangat setuju dengan cara dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kali Jaga. Tetapi penyimpangan terjadi di kemudian hari, seperti syahadatain yang kini bernama sekaten. Acara sekaten memang diambil dari proses pembacaan syahadatain, namun sekarang hanya tinggal nama saja, sekaten lebih identik dengan pasar malam, arena bermain dan yang jelas nilai keagamaannya berkurang.

Kemudian saya mencoba membandingkannya dengan proses penyebaran agama Kristen. Kebanyakan upacara agama kristen tidak murni dari agama Kristen tapi juga ada akulturasi budaya dengan agama Pagan (penyembah alam). Seperti hari Natal, tanggal 25 Desember diambil dari hari raya kaum Pagan. Dulu hari suci kaum Nasrani adalah hari Sabtu, kemudian digeser 1 hari hari Minggu yang merupakan harinya kaum Pagan untuk menyembah matahari ( SunDay=hari matahari).

Umat Kristen saat ini tampaknya tidak terganggu dengan hal semacam itu. Namun umat Islam sangat amat terganggu dengan akulturasi budaya Hindu Budha, animisme dinamisme ke dalam ajaran Islam, karena hal itu amat terkait dengan masalah aqidah.

Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah wali songo?

Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah Muhammadiyah?

Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah umat Islam pada umumya?

 

 

Posted by Miftah at 12:23:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Pesantren Putri Ramadhan 1428 H

 

Pesantren Kilat ini diikuti oleh SMP, MTs, SMA, SMK dari Sleman, Bantul maupun kota Yogyakarta. Diantaranya yaitu, SMAN 5, SMAN 9, SMAN 11, SMAN 4, SMAN 2, SMK YPKK 1 Sleman, SMAN I Bantul, SMK 2 Sewon, MtsN 2 Yogyakarta, SMP 1 Bantul, SMK Muh 4, SMP 2, dll. Karena bernama Pesantren putri tentu saja pesertanya terdiri dari kaum Hawa semua, dan untuk kaum Adam ditempatkan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah.

 

Kegiatannya berlangsung selama 3 hari 2 malam dan terdiri dari 8 gelombang. Para peserta diberikan materi-materi agama seperti tafsir, Gazwul Fikri, Aqidah, Ibadah, dan ESQ. Dan untuk menghilangkan kantuk dan menyegarkan badan para peserta diajak untuk olahraga bersama di lapangan Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Kemudian mereka diajak berdiskusi bersama tentang masalah apa saja pada waktu tadarus dan kajian bersama para pendamping. Tadarus dilakukan sebelum shalat Maghrib, sesudah shalat Isya’ dan sesudah shalat Subuh.

 

Nah, kegiatan tadarus kelompok inilah yang cukup membuat kami, para pendamping, begitu merasakan asam manis, kecut, pahitnya mendidik dan mengajak teman untuk berbuat kebaikan. Hati kami akan merasa senang dan bangga jika kami mendapatkan teman yang baik, aktif, mudah diatur, dan tentunya punya niatan yang besar untuk berubah menjadi lebih baik. Namun begitu kami mendapatkan teman yang diluar kehendak kami, kami mengadu pada teman-teman pendamping dan ustadzah.. yah biasalah, kami masih kelas 3 SMA dan masih sangat perlu untuk dididik. Tentunya teman-teman pendamping yang lain berusaha untuk menenangkan hati temannya dan terus memberi semangat agar ia tetap sabar.. yaa itung-itung, belajar kesabaran untuk mendidik anak.. hehehe..

 

Namun disitulah letak seru dan menantangnya. Jika biasanya kami tidur setelah shalat Subuh, sekarang kami dituntut untuk melawan keinginan mata untuk menutup dan keinginan tangan serta kaki untuk memeluk guling, kami tadarus bersama kelompok masing-masing. Setelah itu baru olahraga bersama, dan sekali lagi, untuk menghilangkan rasa kantuk, capek dan sebal biasanya kami bercanda dan bernyanyi bersama. Momen-momen itulah yang dapat menguatkan hati kami, para pendamping, untuk tetap semangat. Dan tentunya dengan jalinan persahabatan kami yang semakin erat karena keterikatan emosi.

 

Kami para pendamping berjuang bersama ustadzah untuk membangunkan mereka, mengajak mereka shalat dan memerintahkan mereka untuk menutup mata mereka jika hari sudah mau berganti, karena sekolah kami berada di tengah-tengah masyarakat sehingga kami harus menjaga suara agar tidak mengganggu mereka.

 

Dan celakanya, kami para pendamping kadang masih sulit dibangunkan, pengetahuan kami belum seluas pengetahuan ulama dan keadaan psikolgi kami juga belum stabil. Jadi, kalau ada yang tanya dan kami belum bisa jawab atau bahkan salah jawab kami akan sangat malu. Dan tentunya kami tidak diperbolehkan untuk menjadi orang jarkoni alias munafik. Kami harus bersikap dan berkelakuan sesuai dengan apa yang kami ucapkan. Apa kata orang, kalau kami menyuruh berbuat baik dan beribadah jika kami sendiri masih “klelar kleler”. Belum lagi kami juga harus sekolah, mengerjakan pekerjaan asrama ketika para peserta sedang materi.

Yahh.. tapi itulah seni kehidupan.

 

Banyak sekali ilmu yang dapat kami peroleh dari bermacam-macam karakter dan sifat temen kelompok kami, berbagi pengalaman, dan cerita sekolah masing-masing.

 

Nah, yang paling seru adalah hari terakhir, hari ke-23 ramadhan.. walaupun badan masih di Jogja tapi pikiran teman para pendamping sudah berada di kampung halaman masing-masing. Pikiran sudah tidak terfokus lagi pada Pesantren Putri Ramadhan, tapi yang dipikirkan adalah berkemas barang dan bertemu keluarga. Tapi kami tidak mau Pesantren Putri ini berakhir begitu saja tanpa menorehkan suatu rasa dalam hati. Maka pagi harinya pun kami olahraga bersama, yang biasanya tidur setelah tadarus dipaksa untuk bangun. Lucu banget lihat wajah mereka yang berwajah kasur, may be l was too.. hehe..

 

Ada yang senam pake sarung n jarek gara2 ga bawa celana.. lucu banget. Yah setelah senam kami bermain bola ala Mu’allimmat, peraturannya terserah pada wasit, main voli, bernyanyi yang ga jelas, dll. Dan semua hal yang serba ga’ jelas itulah yang membuat perut kami ikut berolahraga..

Dan itulah salah satu momen terindah kami, sebelum kami keluar Mu’allimaat, salah satu persiapan untuk menghadapi tantangan zaman dengan tetap beristiqamah... ( hehe.. ga nyambung ya)

 

Posted by Miftah at 12:18:41 | Permanent Link | Comments (0) |

PPMMM GOES TO IRM

Yah, bertahun-tahun sudah penyakit kebingungan melanda siswi Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Dan pada periode 2007/2008, kami pimpinan PPMMM memutuskan untuk melebur menjadi IRM. Mungkin bisa dikatakan terlambat jika melihat keadaan IRM yang sedang bersiap diri untuk berubah ke IPM, namun juga bisa dikatakan cukup cepat, melihat keadaan kami yang mendadak memutuskan untuk melebur ke IRM, dengan segala persiapan yang pontang-panting bertanya kesana kemari untuk mendapakan sekadar persetujuan dari pihak madrasah atau pun dukungan dari petinggi IRM di atas sana, jauuuuh sekali. Dan yang jelas dengan perbedaan pendapat yang menimbulkan pro kontra atau bahkan perselisihan di kalangan pimpinan dan anggota.

Isak tangis dan canda tawa mewarnai perjuangan kami. Tapi hal itulah yang merupakan bumbu perjuangan kami, yang membuat perjuangan ini menjadi manis, pahit, asam bahkan kecut sekalipun. Dan tentunya perjuangan itu menjadi amat indah dan berkesan. Yahh, pada hakekatnya, meleburnya PPMMM ke IRM tidak mengubah jati diri kami, amien. Al-qur’an dan Sunnah Rosul masih menjadi pedoman, AD/ART Muhammadiyah tentunya menjadi pijakan langkah perjuangan kami. Namun sekali lagi kami nyatakan, bahwa kondisi dunia luar cukup memberikan pengaruh yang significant terhadap jalan pikiran dan arah perjuangan IRM Mu’allimaat.

Wal akhirah.. Hhhhh... nafas lega dapat kami rasakan ketika Peresmian dan Pelantikan Pimpinan Ranting IRM Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Sayangnya, nafas lega itu harus didahului dengan tetesan air mata, dan saat itu kami tidak menafikan bahwa sesungguhnya kami masih amat cinta kepada PPMMM. Dan cinta itu memang tidak harus memiliki, berkorban untuk sesuatu yang dicintai itulah makna cinta yang hakiki. Apa kata anggota Muhammadiyah tentang Mu’allimaat, sekolah kader yang dibawahi langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, jika ortomnya pun tidak mempunyai jalur struktural ke organisasi Muhammdiyah. Dan alasan itulah yang membuat kami tidak mau menghinakan nama Madrasah Mu’allimaat dan mengkhianati Muhammadiyah Dan walaupun nafas lega telah tersembur dari paru-paru sehingga kami dapat bernafas dengan lancar, sepertinya penyakit asma kami mulai kumat lagi. Nafas tidak lancar karena memikirkan kondisi Muhammadiyah saat ini yang cukup memprihatinkan, dan itulah tantangan yang harus kami hadapi saat ini. Kewajiban kitalah, semua anggota Muhammadiyah, untuk mencari dokter yang dapat menyembuhkan penyakit Muhammadiyah, sebelum menjadi kritis atau bahkan sakaratul maut... na’udzubillahi min dzalik.

 Wa a’udzubillahi an akuuna minal munaafiqiin. Kami tidak mau jadi orang munafik yang hanya bisa bicara tanpa bisa melakukannya (kabura maqtan ‘indallahi an taquulu ma laa taf’aluun). Dan sepertinya hal itu sulit sekali untuk dilakukan, karena kebanyakan orang Islam lebih pintar berbicara daripada bekerja dan mendengar, hehe.. n may be we are too.

Posted by Miftah at 11:53:40 | Permanent Link | Comments (1) |

Sunday | September 30, 2007

Sebuah Mimpi

Jika Anda pernah membaca novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor... Niscaya Anda akan percaya dan yakin akan kekuatan mimpi dalam hidup kita.

Disana ada banyak spektakuler tokoh yang bertahan hidup dengan mimpi.

yang pertama adalah Lintang,, dia adalah anak super jenius yang pernah dikenal oleh Ikal, Sang pembuat novel.. Dia bersepeda sepanjang 80 km pulang balik untuk bersekolah, tak kenal putus asa walau di depan mata ada buaya yang mengancam keselamatan nyawa, air yang meninggi ketika musim hujan, ban kempes hingga rantai sepeda yang putus. semangatnya untuk belajar merupakan pancaran energi yang besar sehingga dapat menimbulkan suasana pembelajaran yang kondusif.. sepulang sekolah ia harus bekerj untuk menambah penghasian keluarga.. ia baru bisa belajar setelah jam 11 malam.. ia adalah Einstein kecil, teman Isac Newton..

namun ketika kelas 3 smp ayahnya meninggal, ia terpaksa putus sekolah untuk menafkahi 14 orang keluarganya. sungguh ironis sekali.. aku paham, mimpilah yang dapat membuatnya tetap bertahan untuk tetap sekolah, tetapi takdir berkata lain.. aku jadi semakin bingung. bukanlah takdir dapat diubah sesuai dengan usaha manusia. Apakah kehidupan lintang itu merupakan nasib? atau takdirnya?

Lintang telah mengerti masalah integral diferensial sewaktu SD, pikirannya jauh meninggalkan usianya. Ia juga pernah memenangkan debat ilmiah dengan sarjana yang terkenal di Belitong. kalau orang banyak termotivasi sewaktu membaca novel laskar pelangi maupun Sang Pemimpi, karena mimpi mereka yang amat tinggi hingga salah seorang anggota mereka mampu sekolah ke Prancis(Ikal, penulis bulu ini) dan anggota yang lainnya pun menjadi orang sukses. namun ada juga yang masih bingung memikirkan nasibnya di masa yang akan datang. orang pintar seperti Lintang tidak dapat meneruskan cita-citanya, sedangkan teman yang lain dengan rahmat dari Allah SWT mampu menjado orang sukses.

kata Arai, teman Ikal yang juga dapat sekolah ke luar negeri, jangan pernah mendahului nasib.

Dan Ikal pun mempunyai prinsip bahwa berbuat yang terbaik di titik di mana kita berdiri adalah hal yang paling realistis. Prinsip inilah yang mampu mengobarkan kembali semangat Ikal untuk terus belajar sehingga ia mampu melonjak ke ranking 5 besar setelah ia turun dratis ke rangking tujuh puluh lebih.

dan Arai pun, salah satu teman Ikal mendapat musibah ketika ia menulis skripsi dengan mendapatkan suatu penyakit yang mengharuskannya pulang ke Indonesia.

hmmm.. ya itulah taqdir Allah, mungkin Allah telah menyiapkan pahala besar berupa surga bagi Lintang yang dapat sabar ketika harus meninggalkan bangku pendidikan untuk menafkahi keluarga.

Posted by Miftah at 17:33:05 | Permanent Link | Comments (1) |